proposal kemitraan bidan dan dukun terlatih

BAB I – 4

BAB I – 4

afrisal arief

Image

proposal “pengaruh efektifitas komunikasi terapeutik terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi”

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Kecemasan adalah satu perasaan subjektif yang dialami seseorang terutama oleh adanya pengalaman baru, termasuk pada pasien yang akan mengalami tindakan invasif seperti pembedahan. Dilaporkan pasien mengalami cemas karena hospitalisasi, pemeriksaan dan prosedur tindakan medik yang menyebabkan perasaan tidak nyaman ( Rawling, 1984).

Tindakan operasi sering menyebabkan kecemasan pada pasien. Menanggulangi atau menurunkan kecemasan pasien adalah salah satu tugas perawat. Salah satu caranya yaitu dengan komunikasi. Misalnya penjelasan tentang prosedur tindakan. Fenomena yang ada sekarang, bahwa komunikasi yang dilakukan perawat sebagai orang yang terdekat dan paling lama berada di dekat pasien cenderung mengarah pada tugas perawat dari pada mengenali kecemasan dan persepsi pasien tentang tindakan yang menyebabkan kecemasan. Terdapat bukti bahwa perbincangan antara perawat dan pasien cenderung mengarah pada tugas perawat daripada mengenali kecemasan dan pandangan-pandangan pasien (Faulkner, 1979; Mc Leod Clark, 1981; Melia, 1987 dikutip dari Ellis dkk, 1999).

Kajian-kajian terdahulu mengidentifikasi masalah-masalah komunikasi sebagai penyebab yang harus selalu diperhatikan dalam pemberian pelayanan kesehatan (Menzies 1970, Stockwell 1972, Hayward 1975, Mc Leod Clark 1984, Faulkner 1988 dikutip dari Ellis dkk, 1999). Peplau (1988, dikutip dari Ellis dkk, 1999) mengatakan bahwa keperawatan pada intinya adalah sebuah proses interpersonal. Jika ini benar maka perawat yang berkompeten harus menjadi seorang komunikator yang efektif. Dengan demikian komunikasi keperawatan sangat penting dalam memberikan intervensi keperawatan. Perawat yang menjalankan rutinitas keperawatan pada pasien mempunyai kewenangan untuk mengurangi kecemasan pasien tentang keberadaannya di rumah sakit (Ellis dkk, 1999).

Corbett (1994, dikutip dari Ellis dkk, 1999) menyatakan bahwa perawat dan pasien diperbolehkan memasuki hubungan interpersonal yang akrab. Pasien berhak mengetahui tentang asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat sebagai petugas kesehatan yang profesional. Komunikasi perawat yang diarahkan pada pencapaian tujuan untuk menyembuhkan pasien merupakan salah satu karakteristik komunikasi terapeutik (Purwanto, 1994).

Operasi adalah pengalaman baru bagi pasien yang menimbulkan kecemasan, respon pasien ditujukan melalui: ekspresi marah, bingung, apatis atau mengajukan pertanyaan. Kemampuan komunikasi terapeutik penting dalam mengidentifikasi dan mengatasi kecemasan pasien preoperasi (Taylor, 1997). Selanjutnya Taylor (1997) menyatakan bahwa operasi merupakan masa kritis dan menghasilkan kecemasan. Kecemasan dapat dikurangi dengan tindakan keperawatan fokus pada komunikasi terapeutik bagi pasien dan keluarganya.

Berdasarkan beberapa diatas, penelitian ini penting untuk mengetahui sejauh mana komunikasi terapeutik memberikan efek terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien pre operasi.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas rumusan masalah penelitian ini adalah: “Adakah Pengaruh Komunikasi Terapeutik Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Oprasi di RS Dr. Wahidin sudirohusodo Makassar?”

 

  1. Hipotesis

Komunikasi terapeutik saat Pre Operasi merupakan tindakan umum yang dilakukan setelah diputuskan melakukan pembedahan dengan tujuan mempersiakan mental, fisiologis dan psikologis penderita agar penyulit pasca bedah dapat dicegah sebanyak mungkin.

 

  1. Tujuan Penelelitian
    1. Mengetahui tingkat kecemasan pasien pre operasi setelah diinformasikan akan dilakukan tindakan operasi pada pasien pre operasi di RS Dr. Wahidin sudirohusodo Makassar.
    2. Mengetahui efek komunikasi terapeutik terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi di RS Dr. Wahidin sudirohusodo Makassar.

 

  1. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini bermanfaat bagi praktek keperawatan, institusi pendidikan tinggi keperawatan dan penelitian berikutnya. Adapun secara rinci manfaat penelitian ini adalah :

  1. Sebagai masukan bagi perawat dalam melakukan intervensi keperawatan pada proses pemberian asuhan keperawatan pada pasien pre operasi.
  2. Sebagai masukan bagi pendidikan tinggi keperawatan tentang pentingnya penerapan komunikasi dalam asuhan keperawatan.
  3. Sebagai sumber data dan informasi pengembangan penelitian berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Tinjauan Tentang Komunikasi Terapeutik
    1. Konsep komunikasi
      1. Pengertian

Komunikasi adalah suatu proses dimana informasi ditransmisikan melaluisebuah sistem simbol, tanda atau perilaku yang umum. Pertukaran informasi, ide, pikiran antara dua orang atau lebih (Kozier & Erb, 1995). Komunikasi adalah proses pengoperan lambang yang memiliki arti di antara individu (Wiliam Abalig). Proses penyampaian pesan/informasi dari seseorang kepada orang lain.

Persepsi adalah pandangan personal terhadap suatu kejadian. Persepsi dibentuk oleh harapan dan pengalaman. Persepsi individu pada situasi yang sama dapat berbeda. Hal ini terjadi karena masing-masing individu memiliki kepribadian yang unik, nilai dan pengalaman hidup sehingga masing-masing akan menerima dan menginterpretasikan peran secara berbeda. Suatu kejadian mempunyai arti yang berbeda, karena persepsi orang berbeda.

 

  1. Model Komunikasi
  • Komunikasi satu arah :

Melibatkan tiga unsur dasar dalam komunikasi : komunikator, pesan, komunikan.

  • Komunikasi dua arah :

Komunikator, pesan, saluran, komunikan dan umpan balik.

 

 

 

  1. Tingkat komunikasi

Ada 3 tahapan komunikasi

1)    Komunikasi interpersonal : komunikasi yg terjadi dengan diri sendiri.

2)    Komunikasi interpersonal : komunikasi yang terjadi antar 2 oarang atau lebih (kelompok kecil).

3)    Komunikasi publik : interaksi dengan kelompok besar (10-12 orang)

 

  1. Jenis komunikasi

1)    Komunikasi Verbal :

Penggunaan kata-kata atau tulisan. Bahasa dapat efektif bila sender dan recefier mengerti pesan secara jelas. Penambahan satu kata dapat merubah satu kalimat.

Karakteristik komunikasi verbal yang efektif :

  • Jelas dan ringkas

sederhana, pendek dan langsung. Ulangi bagian penting  dari pesan yg disampaikan. Penerima pesan perlu mengetahui : apa,mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana Ringkas dgn menggunakan kata2 yang mengekspresikan ide secara sederhana. Penggunaan kalimat Katakan pada saya dimana rasa nyeri anda. Lebih baik dari pd, Saya ingin anda menguraikan kepada saya bagian yg anda rasakan tidak enak. 

  • Perbendaharaan kata

Komunikasi tdk akan berhasil jika penerima pesan tdk mampu menerjemahkan kata dan ucapan pengirim pesan. Banyak istilah teknis  yg digunakan oleh perawat yg dapat  membuat klien tdk paham akan maksud kata/pesan tsb. Ucapkan pesan dgn kata yang mudah dipahami oleh klien. Misalnya kata Auskultasi, palpasi dll.

  • Arti denotatif dan konotatif

Suatu kata dapat mengandung beberapa arti. Denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yg digunakan, Konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yg terdpt dlm satu kata. Misal : kata serius dgn kritis

  • Intonasi

dapat mempengaruhi arti pesan

  • Kecepatan berbicara

Perawat perlu bertanya apakah ia berbicara terlalu cepat atau terlalu lama

  • Humor

Tertawa mungkin dapat mengurangi ketegangan dan rasa sakit

 

2)    Komunikasi non verbal

Disebut jg bhs tubuh meliputi : Isyarat, pergerakan tubuh dan penampilan fisik. Perawat perlu menyadari pesan non verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi askep, karena isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal.

Komunikasi non verbal teramati pada :

  • Penampilan fisik

Karakteristik fisik dan cara berpakaian. Pakaian menggambarkan status sosial, budaya, agama, konsep diri dll. Perawat yang memperhatikan penam pilan dirinya dapat menimbulkan citra diri dan profesional yg positif. Penampilan fisik perawat mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan yg diterima, karena tiap klien mempunyai citra bgm seharusnya penampilan seorang perawat

  • Sikap tubuh dan cara berjalan.

Menggambarkan, konsep diri mood dan kesehatan.

  • Ekspresi wajah

Wajah merupakan bgn tubuh yg paling ekspresif. Perasaan marah, terkejut, sedih, bahagia, jijik dsb digambarkan melalui ekspresi wajah. Klien dapat mengenali ekspresi wajah perawat. Oleh karena itu perawat harus belajar mengontrol perasaan. Kontak mata adalah elemen penting dalam komunikasi

  • Sentuhan

Kasih sayang, dukungan emosional dan perhatian dapat disampaikan melalui sentuhan.

 

  1. Faktor yang mempengaruhi komunikasi

1)    Perkembangan : Usia, perkembangan bahasa dan proses berfikir mempengaruhi cara dalam berkomunikasi

2)    Persepsi

3)    Nilai

4)    Latar belakang sosial budaya

5)    Emosi

6)    Pengetahuan

7)    Peran

8)    Tatanan interaksi

 

  1. Konsep Komunikasi Terpeutik

Interaksi perawat dengan klien akan menghasilkan informasi untuk Perawat tentang keadaan klien dan pada waktu yang bersamaan perawat dapat memberikan informasi tentang cara2 menyelesaikan masalah dengan strategi tertt shg klien terpengaruh dan mau melakukannya untuk penyelesaian masalah klien.

Jika klien menerima dan melakukan informasi yg diberikan oleh perawat maka perilaku klien berubah kearah adaptif yg merupakan hasil utama tindakan keperawatan

Hubungan kerjasama Perwat – Klien yang ditandai tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran, dan pengalaman dalam membina hubungan intim yang terapeutik.

Menggunakan diri secara terapeutik :

  • Memiliki konsep diri yang mantap
  • Memiliki harga diri yang cukup & adekuat
  • Memiliki kemampuan membina hubungan yang konstruktif dengan orang lain

Keterampilan yang diperlukan untuk membina hubungan interpersonal meliputi ; kehadiran atau keberadaan perawat, perilaku non verbal, keterampilan memberi respon.

 

Sikap perawat dalam berkomunikasi

  1. Gerakan tubuh
  • Berhadapan : arti dari posisi ini adalah “saya siap untuk anda”.
  • Tersenyum : menunjukkan keramaha, penerimaan.
  • Mempertahankan kontak mata : Kontak mata pd level yg sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
  • Membungkuk ke arah klien : Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengarkan sesuatu.
  • Mempertahankan sikap terbuka : Tidak melipat kaki/tangan atau tidak memasukkan tangan dikantong menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
  • Tetap relaks : Tetap relaks dpt mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dlm memberi respons kpd klien.
  1. Jarak saat berinteraksi

Jarak yang baik utk komunikasi terapeutik adalah 50 – 120 cm, tidak dibatasi oleh meja.

 

 

  1. Sentuhan

Kontak fisik yang sangat personal (bersalaman, menepuk bahu, memegang tangan pasien pada saat sedih dan menangis ) dilakukan secara tenang sambil menganalisis kondisi dan respon pasien. Jangan lakukan pada klien yg penuh curiga/tdk percaya, budaya yang membatasi.

  1. Diam

Berguna utk memfasilitasi pasien dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Setelah perawat mengajukan pertanyaan maka perawat diam utk memberi kesempatan pada pasien  berfikir ttg jawaban pertanyaan

  1. Volume dan nada suara

tekanan, irama, kecepatan, kualitas,

 

Tahap hubungan Perawat – klien.

1)    Fase Pra interaksi

a)    Evaluasi diri

  • Informasi apa yang saya miliki tentang kondisi pasien?
  • Apa yang saya ucapkan pada saat bertemu nanti?
  • Bagaimana respon saya selanjutnya?
  • Adakah pengalaman interaksi yang kurang menyenangkan ?
  • Jika ada, apakah sudah dikoreksi atau dibahas dalam group?
  • Bagaimana tingkat kecemasan saya saat ini ?

b)    Penetapan perkembangan interaksi dengan pasien .

  • Apakah pertemuan ini interaksi yang pertama, lanjutan atau terminasi?
  • Apa tujuan pertemuan?
  • Apa tindakan yang akan dilakukan?
  • Bagaimana cara melakukannya?

 

 

c)    Rencana Interaksi

  • Rencanakan percakapan saudara yang akan dilakukan
  • Teknik komunikasi dan observasi yang akan dilakukan.
  • Tindakan prosedur yang akan dilakukan.

2)    Fase perkenalan dan orientasi

a)    Perkenalan

  • Salam terapeutik disertai perkenalan.
  • Evaluasi/validasi.
  • Kontrak

b)    Orientasi

c)    Kontrak

3)    Fase kerja

Fase kerja merupakan inti hubungan perawat dengan pasien yang terkait erat dengan tujuan pelayanan  keperawatan.    Pada fase kerja yang perlu mendapat perhatian khusus terutama pada saat pasien komplain terhadap pelayanan yang diterima. Pada area ini perawat mengacu pada rencana tindakan keperawatan yang dapat meliputi :

a)    Meningkatkan pengertian & pengenalan pasien akan  dirinya

b)    Mengembangkan & mempertahankan kemampuan pasien secara mandiri

c)    Melaksanakan pendidikan kesehatan

d)    Melaksanakan terapi / teknikal keperawatan

e)    Melaksanakan tindakan kolaborasi

f)     Melaksanakan observasi & monitoring

 

4)    Fase terminasi

Merupakan akhir dari tiap pertemuan, terminasi dibagi dua.

a)    Terminasi sementara

Terutama pada rawat inap, ada pergantian sift jaga atau pada saat dinas.

b)    Terminasi akhir

Terjadi pada saat pasien akan pulang dari Rumah Sakit (keadaan sehat, pindah RS atau meninggal).

 

Hambatan dalam berkomunikasi :

1)    Pemberian nasehat

2)    Menentramkan hati

3)    Mengalihkan pembicaraan pada saat yang mengancam

4)    Membuat penilaian terhadap perilaku klien

5)    Perilaku yang berfokus pada diri perawat

6)    Memberikan pengarahan atau petunjuk yg harus diikuti

7)    Pertanyaan yang berlebihan tanpa memperhatikan kesiapan klien

8)    Memberikan komentar klise atau stereotype

 

Tolak ukur keberhasilan komunikasi :

a)    Keprcayaan penerima pasien

b)    Daya tarik pesan dan kesesuaian kebutuhan

c)    Pemahaman yang sama

d)    Kemampuan komunikan menafsirkan pesan

e)    Setting komunikasi yang kondusif

f)     Metode dan media penyampaian yang sesuai

 

  1. Tinjauan Tentang Kecemasan
    1. Pengertian

Kecemasan adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu.  Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. “ ( Harold I. LIEF)  “Anenvous condition of unrest” ( Leland E. HINSIE dan Robert S CAMBELL).

Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya.” ( J.J GROEN).

  1. Penyebab Kecemasan
    1. Faktor predisposisi

1)        Teory psikoanalitik

Menurut Freud, struktur kepribadian terdiri dari tiga elemen yaitu id, ego, dan super ego. Id melambangkan dorongan insting dan impuls primitif, super ego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang, sedangkan ego digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari id dan super ego. Kecemasan merupakan konflik emosional antara id dan super ego yang berfungsi untuk memperingatkan ego tentang suatu bahaya yang perlu diatasi.

2)        Teori interpersonal

Kecemasan terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal, hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa pertumbuhan seperti kehilangan, perpisahan yang menyebabkan seseorang menjadi tidak berhahaya. Individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami kecemasan

3)        Teori perilaku

Kecemasan merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan para ahli perilaku menganggap kecemasan merupakan suatu dorongan yang dipelajari berdasarkan dorongan, keinginan untuk menghindarkan rasa sakit. Teori ini meyakini bahwa manusia yang pada awal kehidupanya dihadapkan pada rasa takut yang berlebihan akan menunjukkan kemungkinan kecemasan yang berat pada kehidupan yang berat dan pada kehidupan masa dewasanya

4)        Teori biologis

Dari penyelidikan-penyelidikan telah dibuktikan bahwa kemampuan untuk mengalami suatu emosi tidak hanya tergantung dari kadar adrenalin yang meningkat tetapi jenis emosi yang dialami dan diperhatikan tergantung, dari faktor-faktor dan stimulus dalam lingkungan.

  1. Faktor presipitasi

1)        Ancaman integritas diri

Meliputi ketidakmampuan fisiologis atau gangguan terhadap kebutuhan dasar. Hal ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi infeksi virus dan bakteri, polusi lingkungan, sampah. rumah dan makanan juga pakaian dan trauma fisik. Faktor internal meliputi kegagalan mekanisme fisiologi seperti sistem kekebalan, pengaturan suhu dan jantung, serta perubahan biologis.

2)        Ancaman sistem diri

Meliputi ancaman terhadap identitas diri, harga diri dan hubungan interpersonal, kehilangan serta perubahan status atau peran. Faktor eksternal yang mempengaruhi harga diri adalah kehilangan, dilematik, tekanan dalam kelompok sosial maupun budaya.

  1. Penggolongan Kecemasan
    1. Ansietas ringan

Berhuhungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan seseorang jadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan dapat memotivasi belajar serta menghasilkan kreativitas.

  1. Ansietas sedang

Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal penting dan mengesampingkan yang lain, sehingg seseorang mengalami perhatian selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah

  1. Kecemasan berat

Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung untuk memusatkan sesuatu yang terinci dan spesifik serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada orang lain.

  1. Panik

Berhubungan dengan ketakutan dan teror, karena mengalami kehilangan kendali Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan . Panik melibatkan disorganisasi keprihadian, peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan tidak sebagian sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan.

 

  1. Karakteristik tingkat kecemasan
    1. Kecemasan ringan

1)        Fisik: Sesekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat, gejala ringan berkeringat.

2)        Kognitif : Lapang persepsi meluas, mampu menerima rangsang kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah aktual.

3)        Perilaku dan emosi: Tidak dapat duduk dengan tenang, tremor halus pada tangan, suara kadang-kadang meninggi

  1. Kecemasan sedang

1)    Fisik: Sering nafas pendek, nadi ekstra sistole, tekanan darah meningkat. Mulut kering, anoreksia, diare atau kontipasi,gelisah

2)    Kognitif : Lapang persepsi meningkat, tidak mampu menerima rangsang lagi, berfokus pada apa yang menjadi perhatianya

3)    Perilaku dan emosi: Gerakan ntersentak-sentak, meremas tangan,bicara lebih banyak dan cepat,susah tidur dan perasaan tidak aman

  1. Kecemasan berat

1)    Fisik: Nafas pendek nadi dan tekanan darah meningkat, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur dan ketegangan.

2)    Kognitif : Lapang persepsi sangat sempit dan tidak mampu menyelesaikan masalah.

3)    Perilaku dan emosi: Perasaan ancaman meningkat, verbalisasi cepat.

  1. Panik

1)    Fisik: Nafas pendek. rasa tercekik dan palpitasi sakit dada, pucat, hipotensi, koordinasi motorik rendah.

2)    Kognitif : Lapangpersepsi sangat menyempit tidak dapat berpikir logis.

3)    Perilaku dan emosi: Agitasi, mengamuk, marah ketakutan, berteriak, blocking, kehilangan kontrol diri, persepsi datar.

  1. Ukuran skala kecemasan

Ukuran skala kecemasan rentang respon kecemasan dapat ditentukan dengan gejala yang ada dengan menggunakan Hamilton anxietas rating scale (Stuart & Sundeen,1991) dengan skala HARS terdiri dari 14 Komponen yaitu :

  1. Perasaan Cemas meliputi Cemas, takut, mudah tersinggung dan firasat buruk.
  2. Ketegangan meliputi lesu, tidur tidak tenang, gemetar, gelisah, mudah terkejut dan mudah menangis.
  3. Ketakutan meliputi akan gelap, ditinggal sendiri, orang asing, binatang besar, keramaian lalulintas, kerumunan orang banyak.
  4. Gangguan Tidur meliputi sukar tidur, terbangun malam hari, tidak puas, bangun lesu, sering mimpi buruk, dan mimpi menakutkan.
  5. Gangguan kecerdasan meliputi daya ingat buruk.
  6. Perasaan depresi meliputi kehilangan minat , sedih, bangun dini hari, berkurangnya kesenangan pada hobi, perasaan berubah – ubah sepanjang hari.
  7. Gejala somatic meliputi nyeri otot kaki, kedutan otot, gigi gemertak, suara tidak stabil.
  8. Gejala Sensorik meliputi tinnitus, penglihatan kabur, muka merah dan pucat, merasa lemas, perasaan di tusuk – tusuk.
  9. Gejala kardiovakuler meliputi tachicardi , berdebar – debar, nyeri dada, denyut nadi mengeras, rasa lemas seperti mau pingsan, detak jantung hilang sekejap.
  10. Gejala Pernapasan meliputi rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, merasa napas pendek atau sesak, sering menarik napas panjang.
  11. Gejala Saluran Pencernaan makanan meliputi sulit menelan, mual, muntah, enek, konstipasi, perut melilit, defekasi lembek, gangguan pemcernaan, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, rasa panas di perut, berat badan menurun, perut terasa panas atau kembung.
  12. Gejala Urogenital meliputi sering kencing, tidak dapat menahan kencing.
  13. Gejala Vegetatif atau Otonom meliputi mulut kering, muka kering, mudah berkeringat , sering pusing atau sakit kepala, bulu roma berdiri
  14. Perilaku sewaktu wawancara meliputi gelisah, tidak tenang, jari gemetar, mengerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat, napas pendek dan cepat, muka merah

Adapun cara penilaiannya adalah dengan sistem scoring yaitu :

  • Nilai 0 = Tidak ada gejala
  • Nilai 1 = Gejala Ringan (Satu gejala dari pilihan yang ada)
  • Nilai 2 = Gejala Sedang (separo dari gejala yang ada).
  • Nilai 3 = Gejala Berat (Lebih dari separo gejala yang ada)
  • Nilai 4 = Gejala Berat Sekali (Semua gejala ada)

Bila :

  • Skor kurang dari 14 = Tidak ada kecemasan
  • Skor 14 – 20 = Kecemasan ringan.
  • Skor 21 – 27 = Kecemasan sedang
  • Skor 28 – 41 = Kecemasan berat
  • Skor 42 – 56 = Kecemasan berat sekali
  1. Mekanisme koping

Ketika mengalami kecemasan individu menggunakan bermacam-macam mekanisme koping untuk mencoba mengatasinya dalam bentuk ringan, mekanisme koping, dapat diatasi dengan menangis. tidur. tertawa, olah raga, melamun, dan merokok. Namun bila bentuknya lebih berat seperti panik, ketidakmampuan mengatasi kecemasan secara konstruktif merupakan awal penyebab perilaku patologis yang mengancam ego dimana individu menggunakan energi yang lebih besar untuk mengatasi ancaman tersebut.

  1. Reaksi Orientasi

Pemecahan masalah secara sadar yang berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stres secara realistik, dapat berupa konstruktif atau destruktif :

1)      Perilaku menyerang (agresif), biasanya untuk menghilangkan atau mengatasi rintangan untuk memuaskan kebutuhan.

2)      Perilaku menarik diri digunakan untuk menghilangkan sumber-sumber ancaman baik secara fisik maupun psikologis.

3)      Perilaku kompromi digunakan untuk merubah cara melakukan, merubah tujuan atau memuaskan aspek kebutuhan pribadi seseorang.

  1. Mekanisme Pertahanan Ego

Membantu seseorang; untuk mengatasi kecemasan ringan dan sedang yang digunakan untuk melindungi diri dan dilakukan secara tidak sadar untuk memper tahankan keseimbangan.

  1. Kerangka Konsep

Pengetahuan Pasien

Tingkat kecemasan pre operasi

  • Umur
  • Pendidikan
  • Dukungan keluarga
  • Pengalaman operasi sebelumnya
  • Informed consent

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan

                        : Variabel yang diteliti

 

 

                        : Variabel yang tidak diteliti

 

 

  1. Hipotesis

Ha : ada pengaruh pemberian komunikasi terapeutik pada pasien pre operasi.

Ho : tidak ada pengaruh pemberian komunikasi terapeutik pada pasien pre operasi.

  1. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
    1. Pemberian komunikasi terapeutik

yang dimaksud pemberian komunikasi terapeutik dalam penelitian ini adalah apakah pasien mendapatkan pendidikan kesahatan tentang penyakitnya dan prosedur pembedahan yang akan dilakukan.

  1. Efektifitas pemberian komunikasi terapeutik

Yang dimaksud efktifitas pemberian komunikasi terapeutik dalam penelitian ini adalah respon klien stelah mendepat pendidikan kesehatan dari perawat.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah bersifat quasi eksperimen bertujuan untuk mengungkapkan adanya hubungan sebab akibat antara variabel dengan adanya manipulasi suatu variabel. Hal ini bertujuan mengetahui efek komunikasi terapeutik terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi.

 

  1. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah pasien yang akan menjalani tindakan operasi (pasien pre operasi). Sedangkan sampel adalah pasien pre operasi di RS Dr. Wahidin sudirohusodo Makassar. Besar sampel yang dipakai dengan menggunakan nomogram Harry King (dikutip dari Sugiyono, 2004) yang didasarkan atas kesalahan 5 % atau mempunyai tingkat kepercayaan 95% terhadap populasi.

Pengambilan sampel menggunakan cara convenience sampling, dengan kriteria : usia sampel ≥ 15 tahun, tindakan bedah ringan (minor surgery) dan bedah mayor (major surgery), tingkat pendidikan minimal sekolah dasar, dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dan bersedia menjadi sampel pada penelitian ini.

 

  1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian di RS Dr. Wahidin sudirohusodo Makassar. Pemilihan rumah sakit ini sebagai tempat penelitian karena rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit pendidikan tipe A dengan pelayanan bedah yang cukup lengkap.

 

  1. Pertimbangan Etik

Dalam penelitian ini, hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan etik adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan penjelasan kepada responden penelitian tentang tujuan, manfaat, dan prosedur pengisian koisioner.
  2. Meminta persetujuan responden dengan menandatangani informed consent.
  3. Responden berhak untuk menolak dan mengundurkan diri pada saat proses pengisian kuisioner tanpa paksaan dan tidak ada efek yang merugikan terhadap pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan selama dirawat di rumah sakit.
  4. Penelitian ini tidak beresiko yang besar dan data responden dirahasiakan dan digunakan hanya untuk kepentingan penelitian.

 

  1. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini adalah kuisioner. Bagian pertama tentang data demografi meliputi: nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, suku, penghasilan, dan jenis pembedahan.

Bagian kedua berisi 16 item pertanyaan menggambarkan tingkat kecemasan pasien pre operasi. Kuisioner diadopsi dari Costello Comrey Depression and Anxiety Scales dan dimodifikasi sesuai kebutuhan penelitian. Penilaian menggunakan skala Likert dengan skor pilihan: tidak pernah = 0, kadang-kadang = 1, sering = 2 dan terus menerus = 3. Pembagian tingkat kecemasan yaitu skor 0-12 tingkat kecemasan ringan, skor 13-24 tingkat kecemasan sedang, skor 25-36 tingkat kecemasan berat, skor 37-48 tingkat panik.

 

  1. Tehnik Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan:

  1. Rekomendasi izin penelitian dari PSIK STIKES Nani Hasanuddin dan RS Dr. Wahidin sudirohusodo Makassar.
  2. Melaksanakan pengumpulan data dan menjelaskan pada calon responden tentang tujuan dan proses pengisian kuisioner. Calon responden yang bersedia diminta untuk menandatangani surat persetujuan.
  3. Responden mengisi kuisioner selama 20 menit yang difasilitasi oleh peneliti bila ada pertanyaan yang tidak dipahami.
  4. Peneliti melakukan treatment (komunikasi terapeutik) selama 15-20 menit.
  5. Responden dibiarkan selama 15-20 menit sebelum tingkat kecemasannya diukur sesudah treatment diberikan.
  6. Responden diminta mengisi kuisioner selama 20 menit. Selama pengisian kuisioner responden difasilitasi oleh peneliti. Selanjutnya data dianalisa.

 

  1. Pengolahan Data

Prosedur pengolahan data yang dilakukan adalah :

  1. Editing

Setelah kuesioner diisi kemudian dikumpulkan dalam bentuk data, data dilakukan pengecekan dengan memeriksa kelengkapan, kesinambungan dan keseragaman data

  1. Koding

Untuk memudahkan pengolahan data semua jawaban atau data disederhanakan yaitu dengan memberikan simbol-simbol tertentu untuk setiap jawaban. Pengkodean dilakukan : nomor halaman, daftar pertanyaan, nomor pertanyaan.

  1. Tabulasi

Pengelompokan data kedalam suatu tabel menurut sifat –sifat yang dimiliki, dengan menggunakan skala Likert, kemudian data dianalisa secara statistik .

  1. Analisa Data
    1. Analisis  Univariat

Dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum dengan cara mendiskripsikan tiap variabel yang digunakan dalam penelitian yaitu melihat distribusi frekuensinya.

  1. Analisis  Bivariat

Analisis data ditujukan untuk menjawab tujuan penelitian dan menguji hipotesis penelitian. Untuk maksud tersebut, uji statistik yang akan digunakan adalah uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan (a) : 0,05 dengan menggunakan program SPSS 16,0.

  1. Etika Penelitian

Etika penelitian ini bertujuan untuk melindungi hak-hak subjek antara lain menjamin kerahasiaan identitas responden dan  kemungkinan terjadinya ancaman terhadap responden. Sebelum pelaksanaan penelitian pada responden akan diberikan lembaran persetujuan tentang kesediaan responden menjadi partisipan. Dalam penelitian ini terlebih dahulu isi lembaran tersebut. Apabila responden bersedia maka responden dipersilahkan untuk menandatangani surat pernyataan persetujuan tersebut. Penelitian ini memperhatikan masalah etika meliputi Anomaty (tanpa nama) dan confidentially  ( Kerahasiaan).

askep perilaku kekerasan

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Proyek integrasi kesehatan jiwa di Puskesmas dan rumah sakit menunjukkan adanya kebutuhan pelayanan kesehatan jiwa yang lebih terkoordinasi dengan baik di semua unsur kesehatan. Hakekat pembangunan kesehatan merujuk pada penyelengaraan pelayanan kesehatan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk.

Pravelensi penderita Skizofrenia di Indonesia adalah 0,3 – 1 persen dan biasanya timbul pada usia sekitar 18-45 tahun namun ada juga yang baru berusia 11-12 tahun sudah menderita Skizofrenia. Apabila penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa maka diperkirakan sekitar 2 juta jiwa menderita Skizofrenia, dimana sekitar 99% pasien di RS jiwa di Indonesia adalah penderita Skizofrenia. Gejala-gejala Skizofrenia mengalami penurunan fungsi / ketidakmampuan dalam menjalani hidupnya, sangat terlambat produktifitasnya dan nyaris terputus relasinya dengan orang lain.

Masalah keperawatan yang paling sering ditemukan di RS. Jiwa adalah perilaku kekerasan, halusinasi, menarik diri, harga diri rendah, waham, bunuh diri, ketergantungan napza, dan defisit perawatan diri. Dari delapan masalah keperawatan diatas akan mempunyai manifestasi yang berbeda, proses terjadinya masalah yang berbeda dan sehingga dibutuhkan penanganan yang berbeda pula. Ketujuh masalah itu dipandang sama pentingnya, antara masalah satu dengan lainnya. Sedangkan perilaku kekerasan sendiri adalah suatu keadaan dimanan seorang individu mengalami perilaku yang dapat melukai secara fisik baik terhadap diri / orang lain.

Walau demikian meskipun perilaku kekerasan kadang bernilai negative tapi tetap ada karena sebenarnya marah juga berguna yaitu untuk meningkatkan energi dan membuat seseorang lebih berfokus/bersemangat mencapai tujuan. Kamarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan akan mempersulit diri sendiri dan mengganggu hubungan intra personal.

Hal ini melihat fenomena-fenomena diatas baik gejala yang muncul / akibat dari masalah itu sendiri yang akhirnya mengurangi produktifitas pasien. Untuk itu Askep yang professional pada pasien perilaku kekerasan sangat diharapkan oleh pasien atau keluarga.

B.   Tujuan Penulisan

  1. 1.    Tujuan umum

Penulis dapat memberikan asuhan keperawatan secara optimal.

  1. 2.    Tujuan khusus
    1. Penulis dapat mengidentifikasikan hambatan dalam perawatan pasien marah agresif sehingga dapat dicari pemecahan masalahnya
    2. Penulis dapat mengganbarkan hasil pengkajian keperawatan pada pasian dangan prilaku kekerasan
    3. Penulis dapat mendiskripsikan hasil analisa data yang diperoleh pada pasein dengan prilaku kekerasan
    4. penulis dapat mendiskripsikan diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan prilaku kekerasan
    5. penulis dapat mendiskripsikan implementasi yang telah dilakukan pada pasien dengan prilaku kekerasan
    6. penulis dapat mendiskripsikam hasil evaluasi yang berhasil dilakukan

 

  1. C.   MANFAAT PENULISAN

Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat :

  1. Memberikan informasi mengenai perilaku kekerasan
  2. Memberikan informasi penyusunan asuhan keperawatan dengan pasien perilaku kekerasan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.   Konsep Medis
    1. Pengertian

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seorang individu mengalami perilaku-perilaku yang dapat melukai secara fisik baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai sesorang secra fisik maupun psikologi. Berdasarkan defenisi ini maka perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain disertai dengan amuk dan gaduh gelisah yang tak terkontrol (Keliat, 2011)

Rentan respon marah

 

 

 

  1. Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang lain, atau tanpa merendahkan harga diri orang lain.
  2. Frustasi adalah respons yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan. Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan. Akibat dari ancaman tersebut dapat menimbulkan kemarahan.
  3. Pasif adalah respons dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang dialami.
  4. Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih dapat dikontrol oleh individu. Orang agresif biasanya tidak mau mengetahui hak orang lain. Dia berpendapat bahwa setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain.
  5. Mengamuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. Pada keadaan ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

 

  1. Etiologi
    1. Faktor predisposisi

1)    Faktor psikologis

a)    Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotifasi PK.

b)    Berdasarkan penggunaan mekanisme koping individu dan masa kecil yang tidak menyenangkan.

c)    Frustasi.

d)    Kekerasan dalam rumah atau keluarga.

2)    Faktor sosial budaya

Seseorang akan berespon terhadap peningkatan emosionalnya secara agresif tidak berbeda dengan respon-respon yangb lain. Faktor ini dapat dipelajari melalui obserfasi atau imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan maka semakin besar kemungkinan terjadi. Budaya juga dapat memengaruhi perilaku kekerasan. Adanya norma dapat membantu mendefinisikan ekspresi marah yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima.

 

 

3)    Faktor biologis

Berdasarkan hasil penelitian pada hewan, adanya pemberian stimulus elektris ringan padfa hipotalamus (pada sistem limbik) ternyata menimbulkan perilaku egresif, dimana jika terjadi kerusakan fungsi limbik (untuk emosi dan perilaku), lobus frontal (untuk interpretasi indra penciuman dan memori) akanmenimbulkan mata terbuka lebar, pupil berdilatasi, dan hendak menyerang obyek yang ada disekitarnya.

  1. Faktor preipitasi

Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam, baik berupa injury secara fisik, psikis, atau ancaman konsep diri. Beberapa faktor pencetus perilaku kekerasan adalah sebagai berikut.

1)    Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kehidupan yang penuh agresif, dan masa lalu yang tidak menyenangkan.

2)    Interaksi : penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, konflik, merasa terancam, baik internal dari perusahaan diri klien sendiri maupun eksternal dari lingkungan.

3)    Lingkungan : panas, padat, dan bising.

 

  1. Tanda dan gejala
    1. Fisik
  • Mata melotot
  • Pandangan tajam
  • Tangan mengepal
  • Rahang mengatup
  • Wajah memerah
  • Postur tubuh kaku

 

  1. Verbal
  • Mengancam
  • Mengumpat dengan kata-kata kotor
  • Suara keras
  • Bicara kasar, ketus
  1. Perilaku
  • Menyerang orang
  • Melukai diri sendiri/orang lain
  • Merusak lingkungan
  • Amuk/agresif

 

  1. Resiko Dinamika

Factor-faktor dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang dicintai/pekerjaan dan kekerasan merupakan factor penyebab yang lain. Interaksi social yang provokatif dan konflik dapat pula memicu perilaku kekerasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SKEMA PROSES PENYESUAIAN KLIEN MARAH

 

Waspada/sadar akan kebutuhan

Merasa kuat

Merasa tidak kuat

Lega,menolak kemarahan

Marah

Cemas

Stress

Ancaman/kebutuhan

Pemecahan masalah negatif

Ekspresi marah negatif

Ketegangan menurun

Rasa marah teratasi

Bermusuhan

Konflik

Marah berkepanjangan

Menentang

Agresif/mengamuk

Depresi/penyakit psikosomatik

Diungkapkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Askep/Proses Keperawatan

Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi 4 tahapan yaitu : Pengkajian, perencanaan/intervensi, pelaksanaan/implementasi dan evaluasi, yang masing-masing berkesinambungan serta memerlukan kecakapan keterampilan professional tenaga keperawatan.

Proses keperawatan adalah cara pendekatan sistimatis yang diterapkan dalam pelaksanaan fungsi keperawatan, ide pendekatan yang dimiliki, karakteristik sistimatis, bertujuan, interaksi, dinamis dan ilmiah.

 

  1. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data, klasifikasi data, analisa data, dan perumusan masalah atau kebutuhan klien atau diagnosa keperawatan.

  1. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual.

1)    Aspek biologis

Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah, pupil melebar, pengeluaran urine meningkat. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.

 

 

2)    Aspek emosional

Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin memukul orang lain, mengamuk, bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut.

3)    Aspek intelektual

Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual, peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara klien marah, mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi diproses, diklarifikasi, dan diintegrasikan.

4)    Aspek sosial

Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak mengikuti aturan.

5)    Aspek spiritual

Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa. Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa perawat perlu mengkaji individu secara komprehensif meliputi aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual yang secara singkat dapat dilukiskan sebagai berikut :

Aspek fisik terdiri dari :muka merah, pandangan tajam, napas pendek dan cepat, berkeringat, sakit fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah meningkat. Aspek emosi : tidak adekuat, tidak aman, dendam, jengkel. aspek intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan. aspek sosial : menarik diri, penolakan, kekerasan, ejekan, humor.

  1. Klasifikasi data

Data yang didapat pada pengumpulan data dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu data subyektif dan data obyektif. Data subyektif adalah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini didapatkan melalui wawancara perawat dengan klien dan keluarga. Sedangkan data obyektif yang ditemukan secara nyata. Data ini didapatkan melalui obsevasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.

  1. Analisa data

Dengan melihat data subyektif dan data objektif dapat menentukan permasalahan yang dihadapi klien dan dengan memperhatikan pohon masalah dapat diketahui penyebab sampai pada efek dari masalah tersebut. Dari hasil analisa data inilah dapat ditentukan diagnosa keperawatan.

  1. Resiko mencederai diri/orang lain/lingkungan

    Perilaku Kekerasan

    Gangguan Harga diri : Harga diri Rendah

     

    Pohon masalah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Diagnosa keperawatan

Diagnosis keperawatan ditetapkan sesuai dengan data yang didapat, dan saat ini tidak melakukan perilaku kekerasan tetapi pernah melakukan perilaku kekerasan dan belum mempunyai kemampuan untuk mencegah/mengontrol perilaku kekerasan tersebut. Diagnosis yang berlaku pada gangguan ini adalah Risiko perilaku kekerasan.

 

  1. Intervensi

Perencanaan tindakan keperawatan adalah merupakan suatu pedoman bagi perawat dalam melakukan intervensi yang tepat. Rencan tindakan keperawatan terdiri dari tiga aspek yaitu: tujuan umum, tujuan khusus dan rencana tindakan keperawatan.

Tujuan Umum (TUM) berfokus pada penyelesaian permasalahan (P). Dari diagnosa keperawatan dan dapat dicapai jika serangkaian khusus telah tercapai. Tujuan khusus (TUK) berfokus pada penyelesaian penyebab diagnosa keperawatan. Kemampuan pada tujuan khusus terdiri dari tiga aspek yaitu :kemampuan kognetigf, psikomotor, dan afektif. Perlu dimiliki klien untuk menyelesaikan permasalahan.

Pada karya tulis ini akan diuraikan rencana tindakan keperawatan pada diagnosa :

Pada klien

  1. Tujuan umum (TUM) :

Klien tidak melakukan perilaku kekerasan.

  1. Tujuan khusus (TUK) :
    1. TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.
    2. TUK 2 : Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
    3. TUK 3 : Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
    4. TUK 4 : Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekekerasan yang biasa dilakukan.
    5. TUK 5 : Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
    6. TUK 6 : Klien dapat melakukan cara berespons terhadap kemaahan secara konstruktif.
    7. TUK 7 : Klien dapat mendemonstrasikan sikap perilaku kekerasan.
    8. TUK 8 : Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan.
    9. TUK 9 : Klien dapat menggunakan obat yang benar.

 

Intervensi

  1. TUK 1 : klien dapat membina hubungan saling percaya.

Kriteria evaluasi :

1)    Klien mau membalas salam

2)    Klien menyebut nama.

3)    Klien mau tersenyum.

4)    Klien mau kontak mata.

5)    Klien mau mengetahui nama perawat

Intervensi :

1)    Beri salam dan panggil nama

2)    Sebutkan nama perawat sambil jabat tangan.

3)    Jelaskan maksud hubungan interaksi.

4)    Jelaskan tentang kontrak yang akan diambil.

5)    Beri rasa aman dan sikap empati.

 

 

Rasional :

Hubungan saling percaya merupakan cara dasar utama hubungan selanjutnya.

  1. TUK 2 : klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan

Kriteria evaluasi :

1)    Klien mau mengungkapkan perasaannya.

2)    Klien dapat mengungkapkan penyebab perasaan jengkel/kesal (dari diri, lingkungan dan orang lain).

Intervensi :

1)    Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.

2)    Bantu klien untuk  mengungkapkan penyebab perasaan jengkel/kesal (dari diri, lingkungan dan orang lain).

Rasional :

Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dan dapat membantu mengurangi stres dan penyebab jengkel/marah dapat diketahui.

  1. TUK 3 : klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan.

Kriteria evaluasi :

1)    Klien dapat mengungkapkan perasaan saat marah dan jengkel.

2)    Klien dapat menyimpulkan tanda-tanda jengkel atau kesal yang dialami.

Intervensi :

1)    Anjurkan klien untuk mengungkapkan apa yang dialami dan dirasakannya saat jengkel atau marah.

2)    Observasi tanda dan gejala kekerasan pada klien.

3)    Simpulkan bersama klien tanda dan gejala jengkel/marah yang dialami klien.

Rasional :

1)    Untuk mengetahui hal yang dialami dan dirasakan saat jengkel.

2)    Untuk mengetahui tanda klien jengkel atau marah.

  1. TUK 4 : klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang bisa dilakukan.

Kriteria evaluasi :

1)    Klien dapat mengidentifikasi peralaku kekerasan yang bisa dilakukan.

2)    Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang bisa dialkukan.

3)    Klien dapat mengetahui cara yang bisa menyelesaikan masalah atau tidak.

Intervensi :

1)    Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang bisa dilakukan klien.

2)    Anjurkan klien bermain peran dengan perilaku kekerasan yang bisa dialkukan.

3)    Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai.

Rasional :

1)    Ungkapan perilaku kekerasan yang bisa dilakukan klien dapat diidentifikasikan teknik bermain peran yang diberikan.

2)    Mengidentifikasi akibat atau kerugian yang terjadi akibat perilaku kekerasan sehingga dapat mengarahkan klien pada perilaku yang lebih positif.

  1. TUK 5 : klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.

Kriteria evaluasi : klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien.

Intervensi :

1)    Bicarakan akibat atau kerugian dari cara yang dilakukan klien.

2)    Bersama klien menyimpulkan akibat cara yang digunakan oleh klien.

3)    Tanyakan pada klien “apakah ia inginmempelajari cara baru yang sehat.

Rasional :

Cara menyalurkan perilaku kekerasan kearah yang lebih positif dapat menyelamatkan klien fan lingkungan sekitarnya akibat perilaku kekerasan klien.

  1. TUK 6 : klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon.

Kriteria evaluasi :

Klien dapat melakukan cara berespon terhadap kemarahan secara konstruktif.

Intervensi :

1)    Tanyakan pada klien “apakah ia inginmempelajari cara baru yang sehat.

2)    Berikan pujian jika klien mengetahui cara lain yang sehat.

3)    Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.

a)    Secara fisik:

Tarik nafas dalam jika sedang kesal, memukul bantal atau kasur atau olahraga atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.

 

 

b)    Secara verbal :

Katakan bahwa anda sedang kesal atau tersinggung atau jengkel (saya kesal anda berkata seperti itu : saya marah karenamama tidak mengikuti keionginan saya).

c)    Secara sosial

Lakukan dalam kelompok cara-cara marh yang sehat, latihan sering. Latihan manajemen perilaku kekerasan.

d)    Cara spiritual : anjurkan klien sembahyang, berdoa atau ibadah lain meminta kepada Tuhan tentang kekerasan atau kejengkelan yang dirasakan.

Rasional :

Pilihan yang sesuai keinginan klien dapat memudahkan penerapan saat klien sedang marah.

  1. TUK 7 : klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.

Kriteria evaluasi :

Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.

1)    Fisik :

Tarik nafas dalam, olahraga, menyiram tanaman.

2)    Verbal :

Menyatakan secara langsung dengan tidak diikuti.

3)    Spiritual

Sembahyang berdoa, atau ibadah klien.

Intervensi :

1)    Bantu klien memilih cara yang paling cepat untuk klien.

2)    Bantu klien mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.

3)    Bantu klien untuk menstimulasi cara tersebut ( roleplay )

4)    Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut.

5)    Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat jengkel atau marah.

  1. TUK 8 : klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol PK :

Kriteria evaluasi :

Keluarga klien dapat :

1)    Menyebutkan cara merawat klien yang berperilaku kekerasan.

2)    Mengungkapkan rasa puas dalam merawat klien.

Intervensi :

1)    Identifikasi kemampuan keliarga dalam merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan terhadap keluarga klien selama ini.

2)    Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.

3)    Jelaskan cara-cara merawat klien.

a)    Terkait dengan cara mengontrol perilaku marah secara konstruktif.

b)    Sikap tenang, bicra tenang dan jelas.

c)    Membantu klien mengenal menyebab marah.

4)    Membantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien.

5)    Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi.

Rasional :

Dukungan keluarga dalam menghadapi klien dengan tenang dapat membantu mengontrol emosi klien.

  1. TUK 9 : klien dapat menggunakan obat dengan benar sesuai program pengobatan.

Kriteria evaluasi :

1)    Klien dapat menyebutkan obat-obat yang diminum dan digunakannya (jenis, waktu, dosis, dan efek)

2)    Klien dapat minum obat sesuai program pengobatan.

Intervensi :

1)    Jelaskan jenis-jenis obat yang diminum klien kepada klien dan keluarga.

2)    Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin dokter.

3)    Jelaskan prinsip benar obat (baca nama yang tertera pada botol obat, dosis obat, waktu dan cara minum).

4)    Anjurkan klien minta obat dan minum obat tepat waktu.

5)    Anjurkan melapor pada perawat atau dokter jika merasakan efek yang tidak menyenangkan.

6)    Beri pujian jika klien minum obat dengan benar.

Rasional :

Tingkat pengetahuan tentang manfaat, dosis, frekuensi, pemberian obat dapat menghindarkan klien putus obat dan salah minum obat.

Pada Keluarga

  1. Tujuan umum : setelah dilakukan tindakan keluarga dapat merawat dengan PK dirumah.
  2. Tujuan khusus :
    1. TUK 1 : keluarga memahami tentang PK (penyebab, tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari PK itu sendiri)
    2. TUK 2 : keluarga mampu merawat pasien dengan PK.
    3. TUK 3 : keluarga mampu mengidentifikasi perilaku yang harus dilporkan pada perawat.

Intervensi :

  1. TUK 1 : keluarga memahami tentang PK (penyebab, tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari PK itu sendiri).

Kriteria evaluasi :

Keluarga mampu mencegah terjadinya PK.

Intervensi :

Diskusikan bersama keluarga tentang PK (penyebab, tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari PK itu sendiri).

Rasional :

Tingkat pengetahuan tentang PK dapat membantu keluarga dapat membantu keluarga untuk mencegah terjadinya PK.

 

  1. TUK 2 : keluarga mampu merawat pasien dengan PK.

Kriteria evaluasi :

1)    Keluarga mampu memberikan motivasi dalam mengatasi PK.

2)    Keluarga mampu menunjukkan sikap menghargai dan mendukung.

Intervensi :

1)    Anjurkan keluarga untuk memotifasi klien untuk melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat.

2)    Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian pada klien bila klien dapat melakukan kegiatan tersebut sevcara tepat.

3)    Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila klien menunjukkan gejala-gejala PK.

Rasional :

Dukungan dari keluarga dapat membantu mengontrol emosi klien.

  1. TUK 3 : keluarga mampu mengidentifikasi perilaku yang harus dilaporkan pada perawat.

Kriteria evaluasi :

Keluarga mampu mengidentifikasi perilaku yang harus dilaporkan pada perawat.

Intervensi :

Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi klien yang perlu segera dilaporkan pada perawat, seperti bicara keras dan kasar, melempar atau merusak barang atau memukul orang lain.

Rasional :

Identifikasi secara dini dapat mencegah terjadinya PK.

 

  1. 3.    Evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk mengukur tujuan dan kriteria yang sudah tercapai dan yang belum sehingga dapat menentukan intervensi lebih lanjut. Bentuk evaluasi yang positif adalah sebagai brikut :

  1. Identifikasi situasi yang dapat membangkitkan kemarahan.
  2. Bagaimana keadaan klien saat marah dan benci pada orang tersebut.
  3. Sudahkah klien menyadari akibat dari marah dan pengaruhnya pada orang lain.
  4. Buatlah komentar yang kritikal.
  5. Apakah klien sudah mampu mengekspresikan sesuatu yang berbeda.
  6. Klien mampu menggunakan aktifitas secara fisik untuk mengurangi perasaan marahnya.
  7. Konsep diri klien sudah meningkat.
  8. Kemandirian berpikir dan aktivitas meningkat.

 

  1. Terapi Aktifitas Kelompok (TAK)

TAK untuk PK adalah Penyaluran energi

  1. Jenis kegiatan : senam kesegaran jasmani
  2. Kriteria klien :
    1. Klien perilaku kekerasan yang telah dapat mengekspresikan marahnya secara konstruktif.
    2. Klien menarik diri yang telah dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.
    3. Klien sehat secara fisik.
    4. Alat/media :
  • Tape recorder
  • Kaset
  • Peluit

Fase Orientasi

  1. Salam terapeutik
  2. Kontrak :
  • Waktu             : 45 menit
  • Tempat           : Ruang jiwa
  • Topik               : melakukan senam kesegaran bersama
  1. Tujuan aktifitas : klien dapat melakukan gerakan senam untuk menyalurkan energinya.
  2. Aturan main
    1. Setiap klien harus mengikuti permainan dari awal sampai dengan akhir.
    2. Bila ingin kekamar kecil, harus seizin pemimpin TAK.

 

Fase Kerja

  1. Atur posisi pasien dalam barisan
  2. Hidupkan kaset
  3. Motivasi pasien untuk mengikuti gerakan senam seperti yang dicontohkan instruktur senam.

Fase Terminasi

  1. Evaluasi
  • Pemimpin TAK mengeksplorasi perasaan klien setelah mendengar musik.
  • Pemimpin TAK memberikan umpan balik positif pada klien.
  • Pemimpin TAK meminta klien untuk mencoba melakukan senam secara teratur setiap hari.
  1. Kontrak yang akan datang
  • Waktu             : 45 menit
  • Tempat           : Ruang jiwa
  • Topik               : mendiskusikan tentang bunga.
  1. Hasil yang diharapkan.

75% klien mampu :

  1. Mengikuti senam dari awal sampai akhir.
  2. Menyebutkan perasaannya setelah mengikuti senam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN
    1. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seorang individu mengalami perilaku-perilaku yang dapat melukai secara fisik baik terhadap diri sendiri dan orang lain.
    2. Factor-faktor dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan.
    3. Pengkajian meliputi ; pengumpulan data, klasifikasi data, analisa data dan penyusunan pohon masalah.
    4. Diagnosis keperawatan ditetapkan sesuai dengan data yang didapat, dan saat ini tidak melakukan perilaku kekerasan tetapi pernah melakukan perilaku kekerasan dan belum mempunyai kemampuan untuk mencegah/mengontrol perilaku kekerasan tersebut.
    5. Evaluasi dilakukan untuk mengukur tujuan dan kriteria yang sudah tercapai dan yang belum sehingga dapat menentukan intervensi lebih lanjut.
    6. Terapi aktivitas kelompok yang baik untuk pasien perilaku kekerasan adalah terapi Penyaluran Energi.

 

  1. SARAN

Bagi perawat diperlukan pendekatan yang optimal pada klien dengan masalah perilaku kekerasan untuk memberikan perawatan secara optimal    agar klien dapat melakukan marah secara asertif dan dapat mengontrol emosinya saat marah

Bagi institusi rumah sakit untuk menunjang keberhasilan keperawatan klien dengan perilaku kekerasan perlu ditingkatkan lagi hubungan kerja sama antara pihak rumah sakit dan keluarga dalam perawatan klien baik di rumah sakit maupun sudah pulang di rumah

Bagi keluarga diharapkan memberik motivasi kepada klien dengan perilaku kekerasan dengan cara inilah rasa optimisme dan perasaan positif terhadap diri sendiri ataupun orang lain akan muncul sehingga pasien dapat mengontrol emosinya saat marah

Bagi institusi pendidikan agar senantiasa mengembangkan sayap melalui secara aktual dalam menyelesaikan masalah klien dengan perilaku kekerasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

 

  1. Azizah, Lilik Ma’rifatul. 2011. Keperawatan Jiwa Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta. Graha Ilmu
  2. Keliat, Budi Anna. Dkk. 2011. Konsep Kesehatan Jiwa Komunitas. Jakarta. EGC
  3. Keliat, Budi Anna. Dkk. 2011. Manajemen Keperawatan Psikosoaial dan Kader Kesehatan Jiwa. Jakarta. EGC
  4. Keliat, Budi Anna. Dkk. 2011. Manajemen Kasus Gangguan Jiwa. Jakarta. EGC
  5. Kesuamawat Farida dan Hartono Yudi. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta. Salemba Medica
  6. http://yoedhasflyingdutchman.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-pasien-dengan_5109.html
    1. 7.    http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/27/askep-perilaku-kekerasan/
    2. http://nsyadi.blogspot.com/2011/12/askep-perilaku-kekerasan.html
    3. 9.    Harnawatiaj,2008,3,http://www.gayahidupsehat.online.com.27Januari2008

 

askep PK

askep PK

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!